Diantara dasar hukum yang disebut
didalam Al-Qur'an.
“Katakanlah (wahai orang-orang yang
beriman): “Kami beriman kepada Allah dan kitab yang diturunkan kepada kami, dan
kitab yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya,
dan kitab yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kitab yang diberikan kepada
nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara
mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”
—QS. Al-Baqarah: 136
“Dan malaikat-malaikat yang di
sisi-Nya.”
— QS. Al-Anbiya`: 19-20
Hadits Jibril, tentang seseorang yang
bertanya kepada Nabi.
"“Beritahukan kepadaku tentang
Iman”. Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya;
kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang
baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.” ...Kemudian lelaki tersebut
segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar!
Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab,”Allah dan RasulNya
lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian
tentang agama kalian.”"
— HR Muslim, no. 8[6]
Cabang-cabang keimanan[sunting sumber]
Disebutkan dalam hadits dari Abu
Hurairah,
“Iman itu ada 70 atau 60-an cabang. Yang
paling tinggi adalah perkataan ‘la ilaha illallah’, yang paling rendah adalah
menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu (juga) merupakan bagian
dari iman.”
— HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35.
Perkataan ‘Syahadat’ menunjukkan bahwa
iman harus dengan ucapan di lisan. Menyingkirkan duri dari jalan menunjukkan
bahwa iman harus dengan amalan anggota badan. Sedangkan sifat malu menunjukkan
bahwa iman harus dengan keyakinan dalam hati, karena sifat malu itu di hati.
Inilah dalil yang menunjukkan bahwa iman yang benar hanyalah jika terdapat tiga
komponen di dalamnya yaitu (1) keyakinan dalam hati, (2) ucapan di lisan, dan
(3) amalan dengan anggota badan. Maka tanpa adanya amalan, meskipun ada
keyakinan dan ucapan, tidaklah disebut beriman.
EmoticonEmoticon