Tampilkan postingan dengan label hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hadits. Tampilkan semua postingan

APA SAJA YANG BISA DISEDEKAHKAN?





APA SAJA YANG BISA DISEDEKAHKAN?
Rasulullah saw. Bersabda yang bermaksud: “Sesiapa yang mempunyai kenderaan yang melebihi dari keperluannya sendiri hendaklah bersedekah kepada orang yang tidak mempunyai kenderaan dan sesiapa yang mempunyai lebihan bekalan makanan hendaklah ia bersedekah kepada orang yang tidak mempunyai apa-apa bekalan makanan.

Selanjutnya baginda menyebut bermacam-macam lagi harta benda yang baginda teringat hingga kami lihat bahawasanya tidak ada seorang pun dari kami yang benar-benar mempunyai kelebihan”

Riwayat Muslim

Ternyata apa saja bisa disedekahkan, apalagi ketika kita memiliki harta lebih.

Yuk, mulai bersedekah, yuk berbagi kepada sesama...

BEKERJA UNTUK BERSEDEKAH



Sabda Rasulullah s.a.w yang maksudnya: “Hendaklah setiap orang Islam itu bersedekah. Para sahabat bertanya: ‘Jika tidak mampu ya Rasulullah?’ Baginda menyatakan: ‘Maka hendaklah dia berusaha sendiri (bekerja dengan tangannya) yang dapat memberi faedah kepada dirinya dan dengan yang demikian dia dapat bersedekah.’ Mereka bertanya lagi: ‘Jika dia masih tidak sanggup (tidak mampu bekerja)? Jawab nabi: ‘Maka hendaklah dia menolong orang yang susah yang memerlukan bantuan.’ Tanya sahabat lagi: ‘Jika sekiranya dia tidak dapat berbuat demikian?’ Jawab nabi: ‘Maka hendakah dia (mengerjakan kebaikan dan) menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan, jika dia tidak dapat berbuat demikian juga, maka hendaklah dia menahan dirinya daripada melakukan kejahatan, kerana yang demikian itu adalah juga dianggap sedekah.” (Riwayat Bukhari)

ZAKAT TERMASUK RUKUN




“Daripada Ibnu Umar r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Agama Islam ditegakkan atas lima perkara, iaitu mengucap dua kalimah syahadat, mendirikan sembahyang fardhu, mengeluarkan zakat, menunaikan haji ke Baitullah (jika mampu), dan berpuasa pada bulan Ramadhan.” (al-Bukhari dan Muslim)

TENTANG ZAKAT DALAM HADITS





Sumber Hadits berkenaan dengan Zakat Fitrah

    Diriwayatkan dari Ibnu Umar t.ia berkata : Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah dari bulan Ramadan satu sha' dari kurma, atau satu sha' dari sya'iir. atas seorang hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslilmin. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

    Diriwayatkan dari Umar bin Nafi' dari ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata ; Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah satu sha' dari kurma atau satu sha' dari sya'iir atas seorang hamba, merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin dan beliau memerintahkan agar di tunaikan / dikeluarkan sebelum manusia keluar untuk salat 'ied. (H. R : Al-Bukhary, Abu Daud dan
Nasa'i)

    Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Rasulullah saw telah memfardhukan zakat fithrah untuk membersihkan orang yang shaum dari perbuatan sia-sia dan dari perkataan keji dan untuk memberi makan orang miskin. Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum salat, maka ia berarti zakat yang di terima dan barang siapa yang mengeluarkannya sesudah salat 'ied, maka itu berarti shadaqah seperti shadaqah biasa (bukan zakat fithrah). (H.R : Abu Daud, Ibnu Majah dan Daaruquthni)

    Diriwayatkan dari Hisyam bin urwah dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda : Tangan di atas (memberi dan menolong) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta-minta), mulailah orang yang menjadi tanggunganmu (keluarga dll) dan sebaik-baik shadaqah adalah yang di keluarkan dari kelebihan kekayaan (yang di perlukan oleh keluarga) (H.R : Al-Bukhary dan Ahmad)

    Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Rasulullah sw. memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fithrah unutk anak kecil, orang dewasa, orang merdeka dan hamba sahaya dari orang yang kamu sediakan makanan mereka (tanggunganmu). (H.R : Daaruquthni, hadits hasan)

    Artinya : Diriwayatkan dari Nafi' t. berkata : Adalah Ibnu Umar menyerahkan (zakat fithrah) kepada mereka yang menerimanya (panitia penerima zakat fithrah / amil) dan mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fithrah sehari atau dua hari sebelum 'iedil fitri. (H.R.Al-Bukhary)

    Diriwayatkan dari Nafi' : Bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar menyuruh orang mengeluarkan zakat fithrah kepada petugas yang kepadanya zakat fithrah di kumpulkan (amil) dua hari atau tiga hari sebelum hari raya fitri. (H.R: Malik)

DALIL HADITS MENGENAI SYAHADAT



Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau menuturkan bahwa tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu ke negeri Yaman, maka beliau berpesan kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sekelompok orang dari kalangan Ahli Kitab, maka jadikanlah perkara pertama yang kamu serukan kepada mereka syahadat laa ilaha illallah.” Dalam sebagian riwayat disebutkan, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa bagian iman yang paling utama adalah tauhid yang hukumnya wajib ‘ain atas setiap orang, dan itulah perkara yang tidaklah dianggap sah/benar cabang-cabang iman yang lain kecuali setelah sahnya hal ini (tauhid).” (lihat Syarh Muslim [2/88])

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan aqidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.” (lihat Ia’nat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid [1/17] cet. Mu’assasah ar-Risalah)

TIGA POKOK KEIMANAN



‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,

 عَمَّارٌ ثَلاَثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ الإِيمَانَ الإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ ، وَالإِنْفَاقُ مِنَ الإِقْتَارِ

 “Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan:
inshaf dari jiwamu,
menebarkan salam kepada alam,
dan berinfak bersama kefakiran.”

 [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]