Salat yang mula-mula diwajibkan bagi Nabi
Muhammad SAW dan para pengikutnya adalah salat malam, yaitu sejak diturunkannya
Surat al-Muzzammil (73) ayat 1-19. Setelah beberapa lama kemudian, turunlah
ayat berikutnya, yaitu ayat 20:
|
“
|
Sesungguhnya
Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua
pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula)
segolongan dari orang-orang yang bersama kamu, dan Allah menetapkan ukuran
malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat
menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu,
karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Alquran. Dia mengetahui bahwa
akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan
di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang
di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan
dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah
pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu
niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang
paling baik dan yang paling besar pahalanya, dan mohonlah ampunan kepada Allah;
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
|
”
|
Dengan turunnya ayat ini, hukum salat
malam hukumnya menjadi sunnah. Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, al-Hasan, Qatadah, dan ulama salaf lainnya berkata mengenai ayat 20 ini,
"Sesungguhnya ayat ini menghapus kewajiban Salat Malam yang mula-mula Allah
wajibkan bagi umat Islam.
Ibadah Salat sebelum Islam dalam pandangan Islam
Adanya ibadah Salat bagi umat Yahudi dan
Kristen adalah sesuatu yang dibenarkan menurut akidah Islam. Karena menurut
keyakinan Islam semua Nabi melaksanakan Salat atas perintah Allah. Jadi Salat
tidak khusus bagi Nabi Muhammad dan umatnya saja. Salat dalam Islampun telah
dilakukan sejak awal diutusnya Nabi Muhammad, dan baru diwajibkan di lima waktu
setelah terjadinya peristiwa Isra dan mikraj. Dalam Isra' mi'raj tersebut disebuntukan bahwa Nabi Muhammad Salat
terlebih dahulu di Al-Aqsha sebelum naik kelangit dan berjumpa para Nabi. Nabi
Muhammad juga bertemu Nabi Musa dan beliau menceritakan banyaknya jumlah Salat
yang dilakukan bani Israel dalam sehari.
Didalam Al-Qur'an juga disiratkan akan
salat yang dilakukan Nabi-Nabi sebelum Islam, misalnya Ishak dan Ya'kub As.:
"Dan Kami telah memberikan kepada-nya
(Ibrahim) lshak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan
masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka
itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan
telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan salat,
menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah."
— Al-Qur'an
Surah Al-Anbiya':72-73[16]
Juga disebuntukan pula di dalam Al-Qur'an
perintah Salat kepada yang selainnya, pada Ismail As. [17], pada Isa As. [18], pada Bani Israil [19], dan seluruh Ahlul Kitab [20].
Pada awal mulanya Salat umat muslim
berkiblat ke Al-Aqsha di Yerusalem sebelum akhirnya diperintah Allah
untuk berpindah kiblat ke bangunan yang didirikan nabi Ibrahim dan Ismail yaitu
Masjid Al-Haram Kakbah [21].
Betapa
mulia dan indahnya akhlak baginda Ya Rasulullah SAW Mengingatkan kita sewaktu
sakratul maut.
'Pagi
itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah,
"Wahai umatku, kita
semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah
kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa
mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang
mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku".
Khutbah
singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap
sahabatnya satu persatu.
Abu
Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan
napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan
kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan
meninggalkan kita semua,"
desah hati semua sahabat kala itu.
Manusia
tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin
kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung
saat turun dari mimbar.
Saat
itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu,
kalau bisa.
Matahari
kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya,
Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan
membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba
dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya
masuk?" tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
"Maafkanlah, ayahku
sedang demam,"
kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian
ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada
Fatimah, "Siapakah
itu wahai anakku?".
"Tak tahulah ayahku,
orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"tutur Fatimah lembut.
Lalu,
Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah
yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di
dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat
maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut
bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah
bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia
ini. "
Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya
Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit
telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar
menanti kedatanganmu,"
kata Jibril.
Tapi
itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang
mendengar khabar ini?" Tanya
Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku
bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir,
wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga
bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik
semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.
Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa
sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh.
Fatimah
terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan
muka.
"Jijikkah kau
melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat
pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang
sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar
kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan
lagi.
"Ya Allah, dahsyat
nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada
umatku."
Badan
Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya
bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya.
"Uushiikum
bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah
orang-orang lemah di antaramu."
Di
luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah
menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir
Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii,
ummatiii!" -
"Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi
sinaran itu.
Kini,
mampukah kita mencintai sepertinya?
Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa'alaihi wasahbihi
wasallim.
Betapa
cintanya Rasulullah kepada kita.
Usah
gelisah apabila dibenci manusia kerana masih banyak yang menyayangimu di dunia,
tapi
gelisahlah apabila dibenci Allah kerana tiada lagi yang mengasihmu di akhirat
kelak.
EmoticonEmoticon