Dalil-dalil tentang kewajiban puasa
Ramadhan sangatlah banyak dalam nash-nash Al-Qur`an dan Sunnah. Di antaranya
adalah firman Allah Ta’âla,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ
الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ
مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ
تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ
تَعْلَمُونَ. شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ
وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ
بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا
اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
“Wahai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu.
Maka, barang siapa di antara kalian sakit atau berada dalam perjalanan (lalu
berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggalkan itu pada
hari-hari yang lain. Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya, (jika
mereka tidak berpuasa), membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.
Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, itulah yang lebih
baik baginya. Berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (Beberapa
hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia,
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan
yang bathil). Oleh karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri
tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan
barangsiapa yang sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib
berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Allah
menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.
Hendaklah kalian mencukupkan bilangan (bulan) itu dan hendaklah kalian
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian supaya kalian
bersyukur.” [Al-Baqarah: 183-185]
Dalam hadits Abdullah bin Umar riwayat
Al-Bukhâry dan Muslim, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa
puasa adalah salah satu rukun Islam yang agung dan mulia,
بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ
، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima (perkara,
pondasi): Syahadat Lâ Ilâha Illallâh wa Anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasûluhu,
mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berhaji ke Rumah Allah, dan berpuasa
Ramadhan.”
Juga dalam hadits Thalhah bin Ubaidullah
radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, ketika seorang A’raby
bertanya kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang Islam, beliau
bersabda,
خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِى الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ
. فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهُنَّ قَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ وَصِيَامُ
شَهْرِ رَمَضَانَ . فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهُ فَقَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ
. وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ فَقَالَ
هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ . قَالَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ
وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلاَ أَنْقُصُ مِنْهُ. فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ .
“Shalat lima waktu (diwajibkan) dalam
sehari dan semalam.” Maka, ia berkata, “Apakah ada kewajiban lain terhadapku?”
Beliau menjawab, “Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunnah. Juga puasa Ramadhan.”
Maka, ia berkata, “Apakah ada kewajiban lain terhadapku?” Beliau menjawab,
“Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunnah,” dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa
sallam menyebutkan (kewajiban) zakat terhadapnya. Maka, ia berkata, ‘Apakah ada
kewajiban lain terhadapku?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada, kecuali hanya ibadah
sunnah.” Kemudian, orang tersebut pergi seraya berkata, “Demi Allah, saya tidak
akan menambah di atas hal ini dan tidak akan menguranginya.’ Maka, Rasulullah
shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ia telah beruntung apabila jujur.’.”
Selain itu, hadits yang semakna dengan
ini diriwayatkan pula oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Anas bin Malik
radhiyallâhu ‘anhu, dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Jâbir bin Abdillah
radhiyallâhu ‘anhumâ.
Selanjutnya, dalil lain terdapat dalam
hadits Umar bin Khaththab radhiyallâhu ‘anhu riwayat Muslim ,dan hadits Abu
Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, tentang kisah Jibril
yang masyhur ketika beliau bertanya kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa
sallam tentang Islam, Iman, Ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat. Ketika ditanya
tentang Islam, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab,
الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ
الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلاً.
“Islam adalah bahwa engkau bersaksi
bahwa tiada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad
adalah Rasul Allah, engkau menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa
Ramadhan, serta berhaji ke rumah (Allah) bila engkau sanggup menempuh jalan
untuk itu.”
Berdasarkan dalil-dalil di atas, para
ulama bersepakat bahwa siapapun yang mengingkari kewajiban puasa dianggap
kafir, keluar dari Islam, dan dianggap telah mengingkari suatu perkara, yang
kewajibannya telah dimaklumi secara darurat dalam syariat Islam.
Seluruh dalil di atas menunjukkan
keutamaan puasa yang sangat besar dan menunjukkan bahwa betapa agung nikmat dan
rahmat Allah bagi umat Islam.
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ dan Rasul-Nya
telah menjelaskan berbagai macam keutamaan puasa secara umum dan keutamaan
puasa Ramadhan secara khusus. Agar kita dapat bersegera dalam hal menggapai
rahmat Allah dan bergembira terhadap karunia dan nikmat-Nya, berikut ini, kami
menyebutkan beberapa keutamaan puasa. Di antaranya adalah:
Pertama, ampunan dan pahala yang sangat
besar bagi orang yang berpuasa.
Allah Jalla Tsanâ`uhu menyebutkan
sederet orang-orang yang beramal shalih, yang di antara mereka adalah laki-laki
dan perempuan yang berpuasa, kemudian menyatakan pahala untuk mereka dalam
firman-Nya,
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا
عَظِيمًا
“…Allah telah menyediakan, untuk mereka,
ampunan dan pahala yang besar.” [Al-Ahzâb: 35]
Kedua, puasa adalah tameng terhadap api
neraka.
Dalam riwayat Al-Bukhâry dan Muslim dari
Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ
صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَسْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ
فَلْيَقُلْ إِنِّيْ امْرُؤٌ صَائِمٌ
“… dan puasa adalah tameng. Bila salah
seorang dari kalian berada pada hari puasa, janganlah ia berbuat sia-sia dan
janganlah ia banyak mendebat. Kalau orang lain mencercanya atau memusuhinya,
hendaknya ia berkata, ‘Saya sedang berpuasa.’.”
Juga dalam hadits Jâbir, ‘Utsman bin
Abil ‘Âsh, dan Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Imam Ahmad dan
selainnya, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصِّيَامُ جُنَّةٌ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ
الْقِتَالِ
“Puasa merupakan tameng terhadap neraka,
seperti tameng salah seorang dari kalian pada peperangan.”
Ketiga, puasa adalah pemutus syahwat.
Dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud
radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Rasulullah shallallâhu
‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ
فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di
antara kalian yang mampu menikah, hendaklah ia menikah karena hal tersebut
lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang
belum mampu, hendaknya ia berpuasa karena sesungguhnya (puasa itu) adalah
pemutus syahwatnya.”
Keempat, orang yang berpuasa mendapat
ganjaran khusus di sisi Allah.
Hal tersebut karena puasa merupakan
bagian kesabaran, sementara sabar terbagi tiga: sabar dalam hal menjalankan
ketaatan, sabar dalam hal meninggalkan larangan, dan sabar dalam hal menerima
ketentuan Allah. Orang yang berpuasa telah melakukan tiga jenis kesabaran ini
seluruhnya, bahwa ia sabar dalam hal menjalankan ketaatan yang diperintah dalam
pelaksanaan puasa, sabar dalam hal meninggalkan segala hal yang dilarang dan
diharamkan dalam pelaksanaan puasa, serta sabar dalam hal menjalani kepedihan
terhadap lapar, haus, dan kelemahan pada tubuh. Karena puasa merupakan bagian
kesabaran, wajar jika orang yang berpuasa mendapatkan pahala khusus yang tidak
terhingga sebagaimana orang yang sabar mendapat pahala seperti itu. Allah
Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ
بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya, hanya orang-orang yang
bersabarlah yang pahala mereka dicukupkan tanpa batas.” [Az-Zumar: 10]
Kelima, orang yang berpuasa memiliki dua
kegembiraan.
Keenam, bau mulut orang yang berpuasa
lebih harum di sisi Allah daripada bau wangian kasturi.
Tiga keutamaan yang disebut terakhir
termaktub dalam hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan
Muslim bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ
عَشْرَ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ
الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ
أَجْلِيْ وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ
رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan Anak Adam, kebaikannya
dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa
Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa. Sesungguhnya, (amalan) itu adalah (khusus)
bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya karena (orang yang berpuasa)
meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.’ Bagi orang yang berpuasa, ada
dua kegembiraan: kegembiraan ketika dia berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia
berjumpa dengan Rabb-nya. Sesungguhnya, bau mulut orang yang berpuasa lebih
harum di sisi Allah daripada bau kasturi.” (Lafazh hadits adalah milik Imam
Muslim)
Ketujuh, puasa sehari di jalan Allah
menjauhkan wajah seseorang dari neraka sejauh perjalanan selama tujuh puluh
tahun.
Dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudry
radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Rasulullah shallallâhu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِى سَبِيلِ
اللَّهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ
خَرِيفًا
“Tidak seorang hamba pun yang berpuasa
sehari di jalan Allah, kecuali, karena (amalannya pada) hari itu, Allah akan
menjauhkan wajahnya dari neraka (sejauh perjalanan) selama tujuh puluh tahun.”
Kedelapan, pintu khusus di surga bagi
orang-orang yang berpuasa.
Dalam hadits Sahl bin Sa’ad As-Sâ’idy
radhiyallâhu ‘anhumâ riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Rasulullah shallallâhu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ
الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مَعَهُمْ
أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَدْخُلُونَ مِنْهُ فَإِذَا دَخَلَ
آخِرُهُمْ أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya, di surga, ada pintu yang
dinamakan Ar-Rayyân. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya pada hari
kiamat. Tidak ada seorang pun yang melewatinya, kecuali mereka. Dikatakan, ‘Di
mana orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka memasukinya. Jika (orang) terakhir
dari mereka telah masuk, (pintu) itupun dikunci sehingga tidak ada seorang pun
yang melaluinya.”
Kesembilan, puasa termasuk kaffarah
(penggugur) dosa hamba.
Dalam hadits Hadzaifah Ibnul Yamân
radhiyallâhu ‘anhumâ riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِيْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ
وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ
وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Fitnah seseorang terhadap keluarga,
harta, jiwa, anak, dan tetangganya dapat ditebus dengan puasa, shalat,
shadaqah, serta amar ma’ruf dan nahi mungkar.” (Konteks hadits adalah milik
Imam Muslim)
Juga dalam hadits Abu Hurairah
radhiyallâhu ‘anhu riwayat Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى
الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ
الْكَبَائِرَ
“Shalat lima waktu, (dari) Jum’at ke
Jum’at, dan (dari) Ramadhan ke Ramadhan, adalah penggugur dosa (seseorang pada
masa) di antara waktu tersebut sepanjang ia menjauhi dosa besar.”
Bahkan, puasa menjadi bagian kaffarah
pada beberapa perkara seperti pelanggaran sumpah[1], zhihâr [2], sebagian
amalan haji[3], pembunuhan Ahludz Dzimmah ‘orang yang berada di bawah perjanjian’
tanpa sengaja[4], dan pembunuhan hewan buruan saat ihram[5].
Kesepuluh, puasa termasuk amalan yang
mengakibatkan seseorang dimasukkan ke dalam surga.
Dalam haditsnya riwayat Ibnu Abi
Syaibah, Ahmad, An-Nasâ`i, Ibnu Hibban, dan lain-lain, Abu Umâmah radhiyallâhu
‘anhu berkata kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمُرْنِيْ بِعَمَلٍ أَدْخُلُ
بِهِ الْجَنَّةَ . قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ.
“Wahai Rasulullah, perintahlah saya
untuk mengerjakan suatu amalan, yang dengannya, saya dimasukkan ke dalam surga.
Beliau bersabda, ‘Berpuasalah, karena (puasa) itu tak ada bandingannya.’.”
Kesebelas, puasa memberi syafa’at pada
hari kiamat.
Dalam hadits Abdullah bin ‘Amr
radhiyallâhu ‘anhumâ, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ
بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِيْ فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ
فَشَفِّعْنِيْ فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ.
“Puasa dan Al-Qur`an akan memberi
syafa’at untuk seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb-ku,
saya telah melarangnya terhadap makanan dan syahwat pada siang hari, maka
izinkanlah saya untuk memberi syafa’at baginya.’ Al-Qur`an berkata, ‘Saya telah
menghalanginya dari tidur malam, maka izinkanlah saya untuk memberi syafa’at
baginya.’ (Beliau) bersabda, ‘Maka, keduanya mendapat izin untuk mensyafa’ati
(hamba) tersebut.’.” (HR. Ahmad, Muhammad bin Nash Al-Marwazy, Al-Hâkim, dan
selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Tamâmul Minnah hal. 394-395)
Kedua belas, pada Ramadhan, pintu-pintu
surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, serta syaithan dibelenggu.
Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallâhu
‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ
الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Jika Ramadhan telah tiba, pintu-pintu
surgadibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syaithan-syaithan dibelenggu.”
Ketiga belas, orang yang berpuasa pada
Ramadhan, karena keimanan dan hal mengharap pahala, dosa-dosanya diampuni.
Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallâhu
‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan
karena keimanan dan hal mengharap pahola, dosa-dosanya yang telah lalu akan
diampuni.”
[1] [Al-Mâ`idah: 89]
[2] [Al-Mujâdilah: 3-4]
[3] [Al-Baqarah: 196]
[4] [An-Nisâ`: 92]
[5] [Al-Mâ`idah: 95]
al-quran, as-sunnah, dalil puasa, hadits,
keutamaan puasa ramadhan, kewajiban puasa ramadhan, panduan puasa ramadhan,
puasa ramadhan, ramadhan
EmoticonEmoticon