Pertama, menyembah patung atau berhala (al ashnaam). Allah swt. dalam
surat Al-Hajj (22) ayat 30, berfirman:
"Demikianlah (perintah Allah), dan barang
siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih
baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang
ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya. Maka jauhilah olehmu
berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta."
Dalam
surat Maryam (19) 42:
Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya;
"Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak
melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?"
Diceritakan
bahwa Nabi Ibrahim menegur ayahnya karena menyembah patung: Ingatlah ketika ia
berkata kepada bapaknya: "Wahai
bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan
tidak dapat menolong kamu sedikitpun?".
Kedua, menyembah matahari, dalam surat Al A'raaf (7) ayat 54:
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah
menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy.
Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan
(diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing)
tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak
Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.
Allah
menolak orang-orang yang menyembah matahari, bulan dan bintang: Lalu dalam
surat Fushshilat (41) ayat 37 lebih tegas lagi Allah berfirman:
(yaitu) pintu-pintu langit, supaya Aku dapat
melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya Aku memandangnya seorang pendusta".
Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia
dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun itu tidak lain
hanyalah membawa kerugian.
"Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya
ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah
(pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika
kamu hanya kepada-Nya saja menyembah".
Ketiga, menyembah malaikat dan jin, dalam surat Al-An'aam (6) ayat
100 Allah berfirman:
"Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan
jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan
mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak
laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan[495]. Maha
Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan."
Dalam
surat Saba' 34/40-41:
"Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah
mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat:
"Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?".Malaikat-malaikat itu
menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka:
bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin
itu".
Keempat, menyembah para Nabi, seperti Nabi Isa as, yang disembah kaum
Nasrani dan Uzair yang disembah kaum Yahudi. Keduanya sama-sama dianggap anak
Allah, Allah berfirman dalam surat At-Taubah (9) 30:
Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera
Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera
Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru
perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana
mereka sampai berpaling?
Dalam
surat Al Maidah (5) ayat 72 :
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang
berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal
Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan
Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah,
maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.
Kelima, menyembah rahib atau pendeta, Allah berfirman: "Mereka menjadikan orang-orang alimnya,
dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka
mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah
Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha
Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". Adi bin Hatim ra
pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai hal tersebut, seraya berkata: "Sebenarnya mereka tidak menyembah
pendeta atau rahib mereka?" Rasululah saw. menjawab: “Benar, tetapi para rahib atau pendeta itu
telah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, sementara mereka
mengikutinya. Bukankah itu tindak penyembahan terhadap mereka?”
Keenam, menyembah thaghuut.
Istilah thaghuut diambil dari
kata thughyaan artinya
melampaui batas. Maksudnya: segala sesuatu yang disembah selain Allah. Setiap
seruan para Rasul, intinya adalah mengajak kepada tauhid dan menjauhi thaghuut.
Allah berfirman dalam surat An-Nahl (16) ayat 36:
Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada
tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah
Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk
oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan
baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana
kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Dan
tauhid yang murni tidak akan bisa dicapai tanpa menghindar dari menyembah
thaghuut, Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 256:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);
sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu
barang siapa yang ingkar kepada Thaghut [3] dan beriman kepada Allah, maka
sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak
akan putus dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
[3]
Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah swt
Allah
bangga dengan orang-orang beriman yang menjauhi thaghut sebagaimana dalam surat
Az-Zumar (39) ayat 17:
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak
menyembah-nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu
sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku.
Ketujuh, menyembah hawa nafsu. Hawa nafsu adalah kecenderungan
untuk melakukan keburukan. Seseorang yang menuhankan hawa nafsu mengutamakan
keinginan nafsunya di atas cintanya kepada Allah. Dengan demikian ia telah
mentaati hawa nafsunya dan menyembahnya.
Allah
berfirman dalam surat Al Furqan (25) ayat 43:
"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang
menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi
pemelihara atasnya?"
Dalam
surat Al-Jatsiyah (45) ayat 23:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya
[4]. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan
tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk
sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil
pelajaran?
[4]
Maksudnya Tuhan membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui bahwa
Dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.
EmoticonEmoticon