Ada
dua macam syirik: (a) Syirik besar (b) syirik kecil. Masing-masing dari kedua
macam ini mempunyai dua dimensi: zahir
(nampak) dan khafiy
(tersembunyi). Marilah kita bahas satu-satu persatu dari kedua macam syrik
tersebut.
Pertama, Syirik besar (Asy
Syirkul Akbar), yaitu tindakan menyekutukan Allah dengan mahluk-Nya.
Dikatakan syirik besar karena dengannya seseorang tidak akan diampuni dosanya
dan tidak akan masuk surga. Allah berfirman dalam surat An-Nisa (4) ayat 116:
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa
mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain
syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan
(sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat
sejauh-jauhnya."
Ilustrasi
syirik besar ini dibagi dua dimensi: dzahir dan khafiy. Yang dzahir bisa
dicontohkan seperti menyembah bintang, matahari, bulan, patung-patung,
batu-batu, pohon-pohon besar, manusia (seperti menyembah Fir'un, raja-raja,
Budha, Isa ibn Maryam, malaikat, jin dan Syetan. Sementara yang khafiy bisa
dicontohkan seperti meminta kepada orang-orang yang sudah mati dengan keyakinan
bahwa mereka bisa memenuhi apa yang mereka yakini, atau menjadikan seseorang
sebagai pembuat hukum, menghalalkan dan mengharamkan seperti Allah swt.
Kedua, syirik kecil (Asyirkul
Ashghar), yaitu suatu tindakan yang mengarah kepada syirik, tetapi belum
sampai ke tingkat keluar dari tauhid, hanya saja mengurangi kemurniannya.
Syirik Ashghar ini juga dua
dimensi: dzahir dan khafiy. Yang zhahir bisa berupa lafal (pernyataan) dan perbuatan.
(a)
Yang berupa lafal contohnya: bersumpah dengan nama selain Allah dan mengarah ke
syirik, seperti pernyataan: demi Nabi, demi Ka'bah, demi Kakek dan Nenek dan
lain sebagainya. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda:
"man khalafa bighairillahi faqad kafara wa
asyraka (siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka ia kafir dan
musyrik)" (HR.
Turmidzi no. 1535). Termasuk lafal yang mengarah ke syirik pernyataan: kalau
tidak karena Allah dan si fulan niscaya ini tidak akan terjadi, atau memberikan
nama seperti abdul ka'bah dan lain sebagainya.
(b)
Adapun yang berupa perbuatan contohnya: mengalungkan jimat dengan keyakinan
bahwa itu bisa menyelamatkan dari mara bahaya dan sebagainya. Adapun syirik
Ashghar yang khafiy, biasanya berupa niat atau keinginan, seperti riya' dan
sum'ah. Yaitu melakukan tindak ketaatan kepada Allah dengan niat ingin dipuji
orang dan lain sebagainya. Seperti menegakkan shalat dengan nampak khusyu'
karena sedang di samping calon mertuanya, supaya dipuji sebagai orang saleh,
padahal di saat shalat sendirian tidak demikian. Riya' adalah termasuk dosa
hati yang sangat berbahaya. Sebab Islam sangat memperhatikan perbuatan hati
sebagai factor yang menentukan bagi baik tidaknya perbuatan dzahir. Allah
berfirman dalam surat Al Baqarah (2) ayat 264:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti
(perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya
kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka
perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian
batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah).
Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir" [5].
[5]
Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak
pula mendapat pahala di akhirat.
Dalam
sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda:
man samma'a samma’allahu bihii, waman yraa'ii
yraaillahu bihii (Siapa yang menampakkan amalnya dengan maksud riya' Allah akan
menyingkapnya di hari kiamat, dan siapa yang menunjukkan amal shalehnya dengan
maksud ingin dipuji orang Allah mengeluarkan rahasia tersebut di hari Kiamat (HR. Bukhari 11/288 dan Muslim no.
2987).
EmoticonEmoticon